Social Media Semestinya Bikin Bahagia, Bukan Sebaliknya

Didiet Maulana IKAT Indonesia

Di hari-hari dalam hidup, berapa kali kamu bangun tidur dalam keadaan craving, bukan pada makanan atau apa, tapi pada media sosial? Apa yang kamu cari tiap kali kamu baru membuka mata? Apakah kamu selaiknya orang-orang normal yang mencari air putih atau meregangkan tubuh? Atau, yang kamu cari adalah ponselmu di meja ranjang atau di atas kasur? Kalau jawabanmu yang terakhir, well, kamu sudah bisa tebak apa artinya.

Selama ini, kita selalu pakai istilah “main socmed yuk”. Ketika kita memilih kata “main”, bukankah semestinya kita bahagia atau terhibur? Yang terjadi, media sosial justru adalah penyebab banyak orang merasa depresi. Setidaknya, itu hasil penelitian yang dipublikasikan oleh The Journal of Social and Clinical Psychology.

 

What we found overall is that if you use less social media, you are actually less depressed and less lonely, meaning that the decreased social media use is what causes that qualitative shift in your well-being,” kata Jordyn Young, co-author penelitian di atas.

 

Sadar tak sadar, diakui ataupun ogah diakui, media sosial bisa jadi beracun dan menyakitkan. Mau itu untuk mental ataupun sampai fisik. Kenapa bisa begitu?

Media sosial selalu jadi tempat berinteraksi, berekspresi, ruang kita hidup di luar dunia nyata tempat sebenarnya kita berada. Bagiku pribadi, apa yang terjadi di media sosial tidak nyata, tapi terkadang interaksinya nyata. Ia memengaruhi bagaimana cara kita menjalani hari, bagaimana kita berpikir, bagaimana kita menilai. Karena itu, meski maya, apa yang kita alami di media sosial—senang atau sedihnya—ikut kita rasakan di dunia sebenarnya. Bahkan, memengaruhi kesehatan mental dan hingga fisik kita.

Pandemi membuat kita, setidaknya aku pribadi, menghabiskan waktu lebih banyak di dunia maya. Kadarnya bisa 2-3 kali lipat ketimbang sebelum pandemi. Mau itu persoalan pekerjaan sampai mencari hiburan. Kita lupa bahwa terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial itu memengaruhi kita, sekali lagi seperti kalimat ini:

 

“… if you use less social media, you are actually less depressed and less lonely.”

 

Didiet Maulana meditasi social media

Adalah wajar ketika ketika kita merasa banyak hal di media sosial tidak memberikan penghiburan lagi. Atau, tidak membuat kita bahagia lagi. Ini yang disebut masa toxic media sosial. Karena itu, adalah juga sangat wajar ketika kita memutuskan untuk mengambil jarak sejenak dari konten-konten yang membuat diri kita “sakit”.

Hal ini juga yang membuatku secara berkala menyediakan waktu untuk rehat dari media sosial. Bukan, bukan semata karena aku melihat medsos adalah sesuatu hal yang buruk. Namun, rehat ini adalah caraku menjaga diri dan mengambil sikap lebih dulu sebelum efek-efek buruk menjadi penyakit.

Ada satu momen beberapa tahun lalu bahwa keberadaan media sosial membuatku tertekan. Aku lihat teman-teman posting kesuksesan mereka yang membuatku iri. Lalu, pelan-pelan aku memandang diri sendiri sebelah mata. Alhasil, aku lebih memfokuskan diri pada orang lain bukan diri sendiri. Ini yang membuat media sosial menjadi toxic.

 

Inilah kenapa penting untuk mengambil jarak dan rehat dari media sosial. Agar kita kembali mengenal siapa diri kita di dunia, agar kita sadar apa yang penting dan yang nyata.

 

Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga diri di media sosial? Aku pribadi punya treatment yang selama ini rutin kulakukan. Pertama, selalu kenali diri sendiri. Kalau media sosial yang semestinya bikin happy tapi sudah lagi tidak menyenangkan, berarti saatnya evaluasi lagi (reevaluate). Kenali alasan yang bikin itu sudah tidak menyenangkan.

Lalu, langkah kedua, bagaimana cara merespons situasi tidak menyenangkan ini? Seperti yang Charles Swindoll (seorang pengarang asal Amerika Serikat) katakan, “Life is 10% what happens to me and 90% how I react to it. We are in charge of our attitudes.” Cara kita menghadapi persoalan adalah tanggung jawab diri sendiri. Maka, ketika komentar orang asing di media sosial jauh lebih berarti daripada komentar keluarga atau sahabat di dunia nyata, sirene alarm sebentar lagi akan berdering keras.

Acara bincang-bincang tentang menjaga jarak dari media sosial bakal digelar di acara yang punya tagline “Indonesia’s Largest Urban Wellness and Meditation Festival is Back.” Acara ini jadi bagian dari acara tahunan ketiga The Golden Space Indonesia Alive Festival 2020. Ia bakal digelar 7 November 2020 pukul 10-11 via Zoom.

Didiet Maulana Alive Festival

Aku menjadi salah satu panelis dalam festival tersebut dari puluhan panelis lain. Di acara ini, mari sama-sama belajar bagaimana untuk menjaga jarak dari dampak toxic media sosial, bagaimana memberi waktu untuk rehat dari media sosial, lalu bagaimana cara menjaga diri di media sosial.

Tahu kapan untuk berhenti, ingat untuk selalu mencintai diri sendiri sebelum tega membanding-bandingkan dengan orang lain. Selamat mengapresiasi diri. Selamat menikmati media sosial seperti seharusnya. Dan, semoga bisa ketemu kalian di Alive Festival 2020.

 

Informasi dan pembelian tiket tentang The Golden Space Indonesia Alive Festival 2020, bisa cek ke www.thegoldenspaceindonesia.com/alive. Atau, kontak narahubung di 0812 9338 3162 (Telp./ WA).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *